Kamis, 26 Agustus 2010

KUTUNGGU PINISI KEMBALI

BADIK BERKARAT.

Ketika kubacakan syair ini, aku mohon. Aku mohon dengan sangat kepada kalian.
Dengarkanlah ia di tiap pilihan kata,
Simaklah ia di tiap tambahan frasa,
Cobalah kau renungkan tiap klausa yang hendak kurampungkan.

Tak mungkin kau temukan irisan kalimat yang mengalir dalam guratan penuh makna yang begitu mendalam. Lalu, rasakanlah apa yang kurasa pada tiap rajutan kalimat-kalimat yang kutumpuk bersama sumur air mataku yang telah mengering.

Kutegaskan padamu wahai kalian yang diam membatu.
Sekali lagi kutegaskan padamu wahai kalian yang mungkin sedang tersenyum. atau bahkan tertawa terbahak-bahak hingga dua barisan gigi tak sanggup menyujud pada kisahku.

Tetesan darah telah mengalir dari keelokan pamor badik yang tiap waktu, bahkan mungkin tiap detik ditusukkan padaku.
Inilah kisahku wahai para pemuja paras elok ciptaan Penguasa abadi. Kisah yang tak mungkin kuhentikan separoh jalan. Sebab cerita telah kutuliskan. Dan kaki terlanjur melangkah.

Hanya satu harapku padamu yang setia memegang titah moyang bugis.
Kelak, merah darah yang mengalir terus menerus mengalir kealiran zaman berganti dapat mencuci warisan leluhur yang terkurung sepi memfosil purba tak tersentuh waktu.

BADIK KIAN BERKARAT

Jangan kau dengarkan muslihat kata yang dipilih. Sebab renungan panjang tak akan temukan benar kebenaran yang coba dibenarkan.
Ketetapan telah dituliskan lewat pinisi yang tegar berlayar meski terombang ambing dihantam ombak sejarah.
Tak ada iba, tak ada belas kasih.
Meski berkarat, warisan leluhur mesti terjaga.
Terjaga oleh Globalisasi, Emansipasi dan roh-roh Feminisme yang bergentayangan merampas darah perawan, Bugisku Biru.

BUGISKU BIRU

Pinisi telah berlayar mengitar jagad mengukir pamor, tanah tak dikenal
Kutegaskan pada kalian. Ujung badik akan mencuci biru yang memerah melupa
Akan darah yang telah digariskan oleh para Tubarani.
Kelak, jika jiwa mengingkar titah
Badik bicara menembus tiap zaman yang ditentang.


BADIK, BUGIS, BIRU

Tajam badik memecah karam menyanjung adat
Darah bugis, makassar, toraja, mandar. Darah manusia. Aku, kau, kalian dan mereka. Semua manusia. Manusia yang merunut pada silsilah Adam sebagai manusia pertama dimuka bumi.
Biru, Merah, Hitam, Cokelat, Putih. Tak mampu melukiskan keindahan akan kehidupan jika seragam.
Prinsip harus ditegakkan, dan setiap kita punya prinsip
Maafkan jika ku ego. Sebab, setiap kita dilahirkan dengan rasa yang berbeda

Ketajaman Badik menembus tiap zaman.
Dulu, kini, dan esok, masa yang kuramalkan akan kembali ke peradaban semula.

Sekarang, pinisi telah jauh berlayar mengukir sejarah. Jauh, sangat jauh ke negeri seberang.
Aku lupa. Sampaikan pada para Tobarania.
Sipakatau, sipakainge dan sipakallebi akan selalu menunggu Pinisi kembali.

Losari,

NEGARA BANYOLAN

Kawan....,
Maukah kau kuceritakan tentang sebuah negara yang dipimpin oleh para pelawak-pelawak berdasi kupu-kupu.
Maukah kau kuceritakan tentang paham demokrasi yang mereka anut.

Begini ceritanya.

Ada sebuah negara yang berdiri atas penderitaan 95 persen kaum miskin. Negara itu memiliki ribuan pulau-pulau yang sangat subur dan sangat terkenal akan kekayaan alamnya. Nama negara tersebut adalah Negara Banyolan. Sebab nama Indonesia yang pernah dikumandangkan pada tanggal 17 agustus 1945 hanya berhak dimiliki oleh mereka-mereka yang memiliki kekuasaan.

Kawan,....
Negara tersebut sangat menarik. Sebab, mereka menganut paham demokrasi untuk menindas mayoritas. Dimana-mana selalu minoritas yang terancam. Tapi di negara banyolan ini tidak begitu. Mayoritas mereka secara fanatik, bahkan sangat fanatik untuk berlomba-lomba menjadikan para badut-badut itu menjadi pemimpin mereka. Tak tanggung-tanggung, mereka tak segan memasangkan dasi kupu-kupu pada sang badut. Agar kelihatan berwibawa tentunya.

Kalau kau pernah melihat tayangan sirkus di Televisi. Yah, itulah pemimpin mereka. Meski telinga pemimpin mereka besar-besar, namun tak mampu mendengar jeritan kelaparan yang terjadi pada rakyat. Meski hidung mereka juga sangat besar, namun tak begitu tajam hingga mampu mencium aroma darah, air mata kelaparan dan kekacauan serta huru-hara yang terjadi dimana-mana. Sayang, matanya sangat sipit hingga tak mampu melihat kenyataan yang terjadi.

Satu lagi kawan,....
Mereka juga mempercayakan kepada beberapa orang badut lagi untuk duduk menjadi anggota dewan, dan sangat dihormati. Sebab para anggota dewan tersebut sering menggelar atraksi-atraksi yang menghibur. Mulai dari janji-janji yang meninabobokan rakyat, hingga bayi-bayi yang baru lahirpun tak lagi sanggup untuk menangis saat mendengarkan mereka menabur janji-janji politik. Atraksi selanjutnya ialah menjinakkan hewan-hewan liar. Mulai dari singa, naga, harimau, hingga ular yang sangat berbisa. Mereka punya kurungan –kurungan yang sangat banyak untuk menampung hewan-hewan tersebut. Kecuali buaya yang dibiarkan terus menerus secara bebas berkeliaran memangsa sisa-sisa uang negara yang telah dibagikan secara merata oleh para badut. Awas,.... bahaya, Hati-hati, banyak buaya yang berkeliaran disini.

Sekarang, negara itu mengalami sedikit kekacauan. Dengar-dengar, karena bahan bakar minyak naik disebabkan sang badut mencabut subsidi.
Semua berteriak semua mengerang, namun sang badut tetap tersenyum.
Semua panik semua berontak, namun sang badut sedang asik berada di sebuah
panggung pementasan banyolan dengan para dewan sebagai penonton setia yang selalu bertepuk tangan. Lucu-sangat lucu bagi mereka. Meski semua harga naik sepuluh kali lipat. Tontonan dari sang pelawak berdasi kupu-kupu itu jauh lebih menarik. Sekali lagi, jangan pernah berharap para dewan-dewan badut itu mendengarkan teriakan kita hari ini. Sebab mereka tak pernah merasakan imbas dari tiap kebijakan-kebijakan yang terjadi. Mereka terlalu dimanjakan dengan kursi empuk, ruangan dingin ber-AC, mobil mewah, rumah jabatan yang sangat megah. Dan tunjangan sana-sini serta gaji yang melimpah yang bersumber dari keringat rakyat yang memilihnya. Itul;ah kehidupan di negeri banyolan yang sangat lucu bagiku.

Jika kita hidup di negara itu kawan, apa yang mesti kita lakukan??? Tentunya tak hanya berteriak. Sebab mereka memiliki segerombolan pasukan pengamanan para badut yang terus melakukan atraksi-atraksi yang sangat lucu.

Sekarang, mari kita lepaskan semua binatang-binatang yang terkurung didalam hati kita. Kita kacaukan pertunjukkan sirkus tersebut, hingga mereka tau jika sang badut tak pantas memimpin manusia.


'Agustus 2009