Kawan....,
Maukah kau kuceritakan tentang sebuah negara yang dipimpin oleh para pelawak-pelawak berdasi kupu-kupu.
Maukah kau kuceritakan tentang paham demokrasi yang mereka anut.
Begini ceritanya.
Ada sebuah negara yang berdiri atas penderitaan 95 persen kaum miskin. Negara itu memiliki ribuan pulau-pulau yang sangat subur dan sangat terkenal akan kekayaan alamnya. Nama negara tersebut adalah Negara Banyolan. Sebab nama Indonesia yang pernah dikumandangkan pada tanggal 17 agustus 1945 hanya berhak dimiliki oleh mereka-mereka yang memiliki kekuasaan.
Kawan,....
Negara tersebut sangat menarik. Sebab, mereka menganut paham demokrasi untuk menindas mayoritas. Dimana-mana selalu minoritas yang terancam. Tapi di negara banyolan ini tidak begitu. Mayoritas mereka secara fanatik, bahkan sangat fanatik untuk berlomba-lomba menjadikan para badut-badut itu menjadi pemimpin mereka. Tak tanggung-tanggung, mereka tak segan memasangkan dasi kupu-kupu pada sang badut. Agar kelihatan berwibawa tentunya.
Kalau kau pernah melihat tayangan sirkus di Televisi. Yah, itulah pemimpin mereka. Meski telinga pemimpin mereka besar-besar, namun tak mampu mendengar jeritan kelaparan yang terjadi pada rakyat. Meski hidung mereka juga sangat besar, namun tak begitu tajam hingga mampu mencium aroma darah, air mata kelaparan dan kekacauan serta huru-hara yang terjadi dimana-mana. Sayang, matanya sangat sipit hingga tak mampu melihat kenyataan yang terjadi.
Satu lagi kawan,....
Mereka juga mempercayakan kepada beberapa orang badut lagi untuk duduk menjadi anggota dewan, dan sangat dihormati. Sebab para anggota dewan tersebut sering menggelar atraksi-atraksi yang menghibur. Mulai dari janji-janji yang meninabobokan rakyat, hingga bayi-bayi yang baru lahirpun tak lagi sanggup untuk menangis saat mendengarkan mereka menabur janji-janji politik. Atraksi selanjutnya ialah menjinakkan hewan-hewan liar. Mulai dari singa, naga, harimau, hingga ular yang sangat berbisa. Mereka punya kurungan –kurungan yang sangat banyak untuk menampung hewan-hewan tersebut. Kecuali buaya yang dibiarkan terus menerus secara bebas berkeliaran memangsa sisa-sisa uang negara yang telah dibagikan secara merata oleh para badut. Awas,.... bahaya, Hati-hati, banyak buaya yang berkeliaran disini.
Sekarang, negara itu mengalami sedikit kekacauan. Dengar-dengar, karena bahan bakar minyak naik disebabkan sang badut mencabut subsidi.
Semua berteriak semua mengerang, namun sang badut tetap tersenyum.
Semua panik semua berontak, namun sang badut sedang asik berada di sebuah
panggung pementasan banyolan dengan para dewan sebagai penonton setia yang selalu bertepuk tangan. Lucu-sangat lucu bagi mereka. Meski semua harga naik sepuluh kali lipat. Tontonan dari sang pelawak berdasi kupu-kupu itu jauh lebih menarik. Sekali lagi, jangan pernah berharap para dewan-dewan badut itu mendengarkan teriakan kita hari ini. Sebab mereka tak pernah merasakan imbas dari tiap kebijakan-kebijakan yang terjadi. Mereka terlalu dimanjakan dengan kursi empuk, ruangan dingin ber-AC, mobil mewah, rumah jabatan yang sangat megah. Dan tunjangan sana-sini serta gaji yang melimpah yang bersumber dari keringat rakyat yang memilihnya. Itul;ah kehidupan di negeri banyolan yang sangat lucu bagiku.
Jika kita hidup di negara itu kawan, apa yang mesti kita lakukan??? Tentunya tak hanya berteriak. Sebab mereka memiliki segerombolan pasukan pengamanan para badut yang terus melakukan atraksi-atraksi yang sangat lucu.
Sekarang, mari kita lepaskan semua binatang-binatang yang terkurung didalam hati kita. Kita kacaukan pertunjukkan sirkus tersebut, hingga mereka tau jika sang badut tak pantas memimpin manusia.
'Agustus 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar